Meskipun saling ketergantungan dan ketidakterpisahan hak asasi manusia sering kali ditegaskan dan dipulihkan, tantangan besar untuk mewujudkan implementasi penuh hak-hak ini secara global ditimbulkan oleh pengabaian serangkaian hak tertentu. Hak-hak itu dapat dipilih sebagai hak-hak yang disebut sebagai hak asasi manusia generasi “kedua” dan “ketiga”.

Perbedaan terbesar yang nyata ada antara hak sipil dan politik di satu sisi dan hak ekonomi, sosial dan budaya di sisi lain. Perbedaan ini harus ditempatkan dalam konteks politik yang bertanggung jawab atas generasinya sehingga kami dapat menunjukkan aspek ideologis dari argumen yang digunakan untuk mengecilkan pentingnya hak ekonomi, sosial dan budaya.

Penekanan berlebihan pada hak-hak sipil dan politik merupakan sarana yang tidak memadai untuk melindungi martabat manusia di seluruh dunia. Selain itu, dapat dikatakan bahwa wacana ini secara tidak langsung mengarah pada dehumanisasi dan penurunan nilai sebagian besar populasi dunia dan dengan demikian kontraproduktif. Namun, sebelum kita dapat berdebat tentang masa depan hak asasi manusia dan peran penting hak ekonomi, sosial dan budaya, kita perlu memahami keadaan historis yang telah mengkondisikan dan membentuk wacana ini.

Kesadaran akan unsur konteks sejarah di bidang hak asasi manusia di Indonesia dengan sendirinya akan menempatkan kita pada posisi memahami bahwa mereka jauh dari konsep yang kekal. Mereka berfungsi untuk melindungi manusia dan karena itu membutuhkan penyesuaian dan pengalihan terus-menerus dalam terang perkembangan baru yang mengancam untuk melanggar martabat manusia.

Sifat Historis Hak Asasi Manusia

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *